I'm just a simple person.

Feeds RSS
Feeds RSS

Selasa, 18 Desember 2012

Say You Love Me too , Please 2



Chapter 2


Malam Kelabu

Hari sabtu biasanya kuhabiskan bersama Gladist,sahabat terbaikku satu-satunya. Kami pergi ke berbagai tempat. Mencoba setiap aneka makanan. Memancing. Melakukan hal-hal ekstrim yang tidak pernah kami lakukan di hari biasa. Dan juga,BELANJA! Kami berdua sangat senang berbelanja. Bahkan kami pernah sampai lupa waktu karena keasyikan.
Namun sekarang aku tidak pergi kemana-mana. Hanya di kamar dengan segudang pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci pakaian,mengepel___oya,semua barang-barang pemberian Reiga mesti disingkirkan (mengingat semalam aku terus-terusan menangis begitu melihat foto atau barang pemberiannya). Andai saja Gladist tidak ke rumah neneknya. Aku butuh hiburan!
Kuputuskan untuk mencuci pakaian dulu (untungnya pakai mesin cuci ^_^). Ku pisah antara pakaian yang berwarna warni dengan pakaian putih. Kumasukkan satu persatu,dan____Hei! Ini seperti bukan bajuku? Baju T-shirt putih berkerah bergambar motor Harley Davidson. Ukurannya juga tidak pas di badanku. Lalu baju siapa?
“Sayang?”ibu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Pakaiannya terlihat begitu rapi.
“Iya,Bu,”sahutku
“Ibu sama ayah mau pergi dulu,”kata ibu “Mungkin pulangnya agak telat,”
“Kemana?”
Bukannya dijawab,ibu malah tersenyum penuh arti. Lalu dibisiknya sesuatu ke telingaku.
“Ini hari pernikahan ibu sama ayah…,”
Hah? Yang benar? Ini hari ulang tahun pernikahan ibu sama ayah? Pantas saja raut wajah ibu sumringah sekali. Ternyata ini adalah hari bahagia mereka berdua.
“Selamat bersenang-senang ya,Bu,”aku turut bahagia. “Terus Ayah mana?”
“Ayah sudah pergi lebih dulu. Katanya dia lagi mempersiapkan kejutan buat ibu,”
Oh,romantis sekali. Jadi ingin juga. Aku kapan ya,bisa mendapatkan pria yang romantis seperti ayah?
“Kalau begitu ibu pergi,ya,”tambahnya lagi.”Ibu sudah tidak sabar,”
Aku mengangguk cepat. “Hati-hati ya,Bu,”
Dan ibu memang terlihat tidak sabar. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam taksi,yang sepertinya sengaja dipesan untuk ibu.
Mereka bahagia sekali batinku membisik. Ada rasa iri melihatnya.
“Kakak!”
Suara nyaring Desta mengejutkanku. Kebiasaan sekali.
“Ada apa?”ketusku,kembali melanjutkan pekerjaanku. Mencuci.
“Galak sekali,”komentarnya,manyun.”Aku mau minta uang,”
“Apa?”
“Hari ini sekolah mengadakan studi tur ke puncak untuk penelitian. Dan setiap murid wajib mengumpulkan dana,”jelasnya. Apa itu benar? Yang aku tahu,Desta selalu berbohong setiap kali minta uang padaku. Alasannya buat bazzarlah,kegiatan porsenilah___tapi kenyataannya adalah uangnya dipakai buat pacaran.
“Aku tidak percaya,”benar-benar tidak percaya.
Desta melengos kesal. “Kalau kau tidak percaya,akan ku perlihatkan buktinya,”setelah berkata seperti itu,Desta pergi ke kamarnya. Aku menunggu dengan tenang.
“Paling bukti palsu…,”cibirku.
“Ini,”Desta kembali muncul dengan sebuah kertas di tangannya. Kuperhatikan secara teliti___mulai dari kertasnya hingga isinya. Aku tidak mau tertipu untuk kesekian kalinya.
“Ini asli?”tanyaku curiga.
“Tentu saja!”aku Desta,nada suaranya naik satu oktaf. Sedikit tersinggung mungkin. Tapi siapa yang peduli? Aku harus ekstra hati-hati. “Oke,dulu aku sering membohongimu. Tapi kali ini aku jujur dengan apa yang aku katakan. Aku sudah berubah,”
“Berubah?”terang saja,aku sedikit terkejut mendengar kata ‘berubah’ dari mulut Desta.
“Aku tidak akan pernah bohong lagi padamu,”katanya lagi. Meski aku masih tidak percaya,tapi satu hal yang aku tahu. Dia terdengar tulus mengatakannya.
“Baiklah…,”kataku,akhirnya. “Tiga ratus ribu cukup,kan?”
Desta tersenyum cerah. “Lebih dari cukup,”
Kuambil dompetku di kamar dan memberikan Desta uang sebanyak tiga ratus ribu. Dia terlihat senang. Sekolah menyuruh dia mengumpulkan dana sebesar seratus ribu,tapi aku memberikannya tiga ratus ribu. Bonus dua ratus ribu. Tentu saja dia senang.
“Boleh aku tahu,kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini?”tanyaku,penasaran. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah.
Desta hanya tersenyum. “Makasih,ya,”Desta berlalu dari hadapanku.
Aku kenal senyuman itu. Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Jangan-jangan Desta berubah karena dia sedang jatuh cinta? Kalau itu benar,siapa gadis yang sudah membuat Desta berubah? Yang jelas,aku sangat berterima kasih pada gadis itu.
Enam jam kemudian…
Semua pekerjaan rumahku akhirnya selesai juga. Rasanya lega sekali. Lantai,pakaian,taman di halaman rumah___semuanya beres. Aku juga sudah masak. Karena ibu dan ayah pulang telat,jadi cuma buat Desta saja nanti kalau sudah pulang.
“Haaaaahhhh…,”rasanya nyaman sekali begitu kubaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Semua capekku hilang. Tapi lama kelamaan aku merasa sepi. Ayah dan ibu merayakan hari ulang tahun pernikahannya. Desta pergi dengan teman-temannya. Termasuk dengan gadis yang telah membuatnya berubah. Mereka pasti sangat bahagia sekarang.
Aku tahu. Harusnya aku turut senang. Tapi aku merasa iri dengan mereka. Aku juga ingin bahagia. Aku ingin seperti ibuku yang tampak sangat bahagia dengan keromantisan ayah. Aku ingin mendapatkan seorang pria yang bisa menerimaku apa adanya. Yang mengerti aku. Yang selalu ada buatku. Yang menghapus setiap airmata dengan kebahagiaan. Yang menjadikan aku sebagai permaisuri hatinya,dimana sang pria rela melakukan apa saja untuknya. Seperti ayah dan juga Desta.
Malam ini benar-benar terasa sangat sepi.

Say You Love Me too , Please 1



CHAPTER 1
“ PUTUS “


“Kita putus,”
“Kenapa?”tanyaku setengah terkejut “kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?”kupandangi wajah Reiga yang terlihat tidak seperti biasanya. Ada rasa cemas yang tergambar begitu jelas.
Reiga menunduk dan terdiam cukup lama,seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat dibalik rerumputan taman kota.
“Maafkan aku…,”lirihnya,tapi belum berani menatapku.
“Reiga…,”kuberanikan diriku memegang tangannya. Dingin dan berkeringat. “Apa yang terjadi?”
Reiga meremas tanganku. Mengangkat wajahnya,lalu menatapku begitu dalam. Membuatku semakin penasaan dengan perubahan sikap Reiga yang begitu tiba-tiba.
“Kita tidak bisa bersama-sama lagi…,”lanjut Reiga.
“Tidak bisa_____bersama-sama lagi?” apa Reiga ingin pergi meninggalkan aku? Itukah yang ingin dia ucapkan padaku?
Genggaman tangannya terlepas. Ia kembali menunduk. Nafasnya yang keluar begitu berat. Lalu,dilemparkan pandangannya jauh ke depan.
“Aku mendapatkan promosi sebagai manajer di C.E.O,”
“Oya?”aku tidak percaya. Bukankah itu berita yang sangat bagus? Tiga tahun dia bekerja____dan karena kegigihannya dalam bekerja____akhirnya Reiga dipromosikan sebagai manajer.”Selamat kalau begitu.Akhirnya keinginan terwujud,”
Reiga tersenyum. “Terima kasih,”ucapnya tulus “Tapi…,”
“Tapi apa? Apa kau dipindah tugaskan keluar kota?”mungkinkah itu yang dia maksud tidak bisa bersama-sama lagi? Aku masih terus bertanya-tanya dalam hati.
Namun Reiga menggeleng pelan. Lalu apa? Tolong jangan diam saja dan membuatku menebak-nebak. Cepat katakan.
“Dengan dipromosikannya aku sebagai manajer,otomatis aku tidak akan punya waktu untukmu. Aku harus fokus dengan pekerjaanku sekarang. Aku akan sangat sibuk,”tutur Reiga. Aku masih terdiam,mendengar dengan seksama.”Kau tahu? Aku harus menunjukkan dedikasiku kepada atasan sebagai rasa terima kasih,dan juga agar dia tidak kecewa atas pilihannya. Sudah lama aku menginginkannya. Dan aku tidak mau karir yang telah kuraih dengan susah payah ini hancur dengan memikirkan hal-hal lain selain pekerjaan,”
Masih. Aku masih dalam diamku.
“Aku ingin kita putus___dan aku bisa fokus dengan pekerjaanku,”
Aku kaku seketika. Dadaku tiba-tiba jadi sesak. Seperti ada ribuan bebatuan yang menghimpit dan mengiris-iris dadaku. Demi pekerjaan barunya,Reiga ingin putus denganku. Apa selama ini aku hanya dianggap sebagai barang yang membuatnya terganggu?
“Yumi…,” Reiga memanggilku. “Katakan sesuatu…,”
Katakan sesuatu? Apa yang harus aku katakan? Lidahku mati rasa.
“Aku tahu ini sulit bagimu,”lanjut Reiga “Tapi kau tahu sendiri,pekerjaan ini begitu berarti buatku. Jangan tersinggung,menurutku pacaran itu hanya membuang-buang waktuku saja. Bukankah bagus kalau kita melakukan sesuatu yang berguna dan bermanfaat? Kau juga harus seperti itu. Apakah kau tidak merasa rugi kalau waktumu hanya dihabiskan untuk pacaran saja?”
Aku tidak menjawab. Karena disini,tepat dihatiku,kata-katanya yang terakhir begitu menusuk dan telah mencabik-cabiknya. Jadi,dia merasa tidak ada gunanya dengan bersamaku? Selama empat tahun? Tolong katakan kalau ini hanya lelucon.
“Aku juga ingin melihatmu maju,Yumi,”tambahnya lagi. “Dan saat kau sukses nanti,kau pasti akan mengerti kenapa aku mengambil keputusan seperti ini,”
Begitukah?
Aku menunduk sejenak. Menguatkan diri agar aku tidak menangis dihadapannya. Aku tidak ingin terlihat begitu menyedihkan. Kuhirup nafas dalam-dalam,lalu…
“Ya,aku mengerti…,”kataku akhirnya. Meski rasanya berat,tapi cuma ini yang bisa kukatakan. Karena aku tahu,aku akan menangis seperti anak kecil kalau aku banyak bicara. Dia tidak boleh melihatnya.
Kulihat dia tersenyum lebar. “Terima kasih,ya,”ucap Reiga tampak senang. Senang? “Kau memang sangat mengerti aku,”
Tapi tidak dengan dirimu Reiga.
“Tapi jangan khawatir. Kita masih bisa berteman. Iya,kan?”
Reiga,kenapa kau bisa sesantai itu? Tidak berartikah kebersamaan kita selama empat tahun ini? Tidak adakah satu pun dari kenangan-kenangan kita yang membuatmu merasa tercabik-cabik karena semua itu akan berakhir dan tidak akan pernah terjadi lagi? Haruskah aku mengalah demi pekerjaan barumu? Atau___selama ini hanya aku sendiri yang mencintaimu,tapi kau tidak?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu menggunung dalam pikiranku. Tapi aku tidak sanggup lagi. Pasti hanya akan membuatku lebih sakit lagi.
Aku ingin pulang. Berharap bahwa semua ini hanya mimpi dimana esoknya semua kembali berjalan seperti biasa. Hari dimana hanya ada kebahagiaan antara aku dengan Reiga. Bukan berakhir seperti ini.

Sabtu, 15 Desember 2012

GANJA Chapter 3 # Pertemuan Rahasia

http://rootfun.net/images/2012/03/Me-And-You-Wallpaper.jpg




Sudah hampir seminggu aku tidak bertemu dengan Radit.Tidak ada telpon.Tidak ada sms.Tidak e-mail.Sempurna.Kalau saja aku tahu semua ini dari awal____arggh,kau benar-benar bodoh,Azura!.Lalu apa sekarang? Kau sama sekali tidak tahu bagaimana kabarnya.Kau panik sendiri,dan kau tidak tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang.Dia seperti hilang ditelan bumi.
Well,paling tidak rencananya berjalan sempurna.Ibu benar-benar percaya kalau aku putus dengan Radit.Mengingat beberapa hari yang lalu ada sebuah pertunjukan drama paling hebat yang pernah kulihat.Dan itu terjadi di rumahku.Aku dan Radit bertengkar hebat.Saking hebatnya semua tetanggaku datang dan berusaha untuk melerai kami berdua.Kami baru diam saat Ibu dan ayahku keluar dari dalam rumah____dengan wajah terkejutnya.
Aku senang.Rencananya berhasil.Tapi sekarang aku malah merindukannya.Baru kali ini aku berpisah begitu lama dengannya.Dan aku benci melihat raut wajah ibuku yang kegirangan.Tidak apa-apa.Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya.
“Azura,”
“Ya,Bu...,”ibu muncul dari balik pintu kamar.Dandanannya rapi sekali.Padahal cuma mengantarku ke sekolah yang baru.Hugo School.
“Kenapa lama sekali?”gerutunya “Ibu tidak ingin telat ke acara penyambutan siswa baru di sekolahmu”
Iiissshhh,,,ibu ini ! Yang sekolah aku kenapa dia yang jadi heboh sekali?”Iya iya...,”kumasukkan seragam sekolahku ke dalam koper besar bertuliskan H.S.-Singkatan dari Hugo School milikku.Ini yang terakhir.
“Koper besarmu itu tidak akan dibuka dimalam pertama,” kata ibu “tiap murid baru akan hanya menggunakan barang-barang yang dibawanya di dalam tas kecil.Tentunya sudah kau persiapkan,bukan?”
“,,,seperti pakaian tidur,sikat gigi,dan semacamnya kan?”semalaman suntuk aku membaca brosur tentang Hugo School.Jadi mustahil aku lupa mempersiapkan semuanya.
“Gadis pintar.Ini uang sakumu,lima ratus ribu.Uang itu untuk sepanjang semester ini,jadi pergunakan sebaik mungkin,”
“Cuma lima ratus ribu?”yang benar saja? Sejauh yang aku tahu lima ratus ribu itu cuma bisa bertahan selama 3 bulan.Syukur kalau bisa sampai 3 bulan,kalau cuma 2 bulan atau yang parahnya sebulan??
“Murid-murid di sana tidak diperbolehkan membawa uang saku lebih dari itu,”
Ya ampun,,,pemilik sekolah disana pasti sudah gila.Lima ratus ribu selama 6 bulan?Sekolah belum dimulai tapi sudah kena serangan jantung duluan.Apalagi setelah ini?
“Lagipula tidak akan banyak yang bisa kau beli di sekolah itu. Ayolah,Azura. Ayah sudah menunggu kita dari tadi,”
Sepanjang perjalanan aku terus saja merutuk.Ini tidak adil.Benar-benar tidak adil.Sudah tidak bertemu dengan Radit,masuk sekolah yang menyebalkan,dan uang sakuku?Tapi yang lebih parah adalah ayah dan ibuku tampak sangat gembira.Sama sekali tidak menghiraukanku.Tidakkah mereka tahu kalau aku begitu tersiksa?Oh,kepalaku serasa mau pecah memikirkan semuanya.
Perjalanan ke Hugo School ternyata cukup lama juga.Duduk selama satu jam lebih di mobil membuat seluruh persendianku keram.Ibuku saja sampai ketiduran.Pasti tadi pagi dia bangun lebih awal.Kan dia yang paling bersemangat?
“Here we go...,”kata ayah tiba-tiba memelankan laju mobilnya dan berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar__maksudku cukup besar__bertuliskan “Welcome to the Hugo School” .Jadi ini yang namanya Hugo School itu?Sekolah yang sangat dibangga-banggakan oleh ibu dan sekolah menyebalkan yang mengeluarkan peraturan bahwa murid-murid disini hanya boleh membawa uang saku tidak boleh lebih dari lima ratus ribu rupiah selama semester.”Kita sudah sampai,sayang,”
“Ya ampun,sekolah ini benar-benar bagus,”komentar ibu yang sepertinya langsung tersihir melihat bangunan Hugo School.Matanya sama sekali tidak berkedip.”Berbeda sekali dengan yang ada di brosur,”
Hah?Bagus katanya?Apanya yang bagus dengan sekolah ini?Biasa-biasa saja menurutku.Dilihat dari bangunannya saja tidak ada bedanya dengan sekolah-sekolah lain di Jakarta.Well,Hugo School mungkin lebih besar dan luas.Mungkin dua puluh kali lipat dari lapangan golf.Di sekelilingnya juga banyak ditumbuhi pohon-pohon pinus yang rindang.Dan mungkin sedikit mewah dengan sentuhan arsitektur jepara kunonya.Tapi tetap saja tidak ada menarik-menariknya sama sekali.
“Silahkan parkir mobil Anda di Go-Park,Tuan,”begitu kata seorang satpam sekolah yang sebenarnya lebih mirip seperti salah satu pemeran di M.I.B kalau saja dia punya kacamata hitam.
“Apa acaranya penyambutannya sudah dimulai?sepertinya tidak ada mobil lain selain mobil kami,”ayah sepertinya menyadari kalau saat itu suasananya sepi sekali.
“Belum,Tuan,”jawabnya.”Anda hanya datang lima belas menit lebih awal,”
Hahaha,,,lima belas menit lebih awal.Benar-benar bersemangat sekali ya? “Ah,terima kasih kalau begitu,”
Gerbang Hugo School terbuka secara perlahan.Suara berdecit yang ditimbulkannya membuat telingaku sedikit sakit.Benda berkarat kuno! Katanya sekolah internasional, tapi mengurusi gerbang sekolah saja tidak becus.Aku heran.Kenapa ibu dan ayah ngotot sekali menginginkan aku bersekolah di sini?Dan lihat wajah ibu.Tampak sangat cerah dan___menyebalkan.Ayah juga sama saja.Mereka tidak henti-hentinya memuji sekolah jelek ini.
Mobil kami berbelok ke kanan , memasuki semacam terowongan yang cukup gelap dan panjang. Hanya ada obor yang terpasang di sepanjang terowongan. Aroma tanah basah terasa begitu tajam menggelitik hidung__membuatku tidak henti - hentinya untuk bersin. Anehnya , ibu dan ayah tidak mempunyai masalah dengan itu.
“ Ayah , awas ! “
Ckiiiiiiiitttt !!
Mobil berhenti mendadak , membuat kami  semua hampir terjengkang ke depan.     Nyaris saja. Tinggal seinci lagi mobil kami hampir menghantam tembok beton. Ayah dan ibu tampak sangat shock. Ini jalan buntu !
“Kalian tidak apa-apa?”tanya ayah , khawatir.
Aku mengangguk lemas. Sedikit lagi , nyawa kami bertiga hampir melayang.
“Kita . . . tidak mungkin salah jalan kan,Ayah?”
“Itu...,”
Drrrrrttttt !!
Tiba-tiba tempat di sekitar kami berguncang.Apa lagi ini? Apa terjadi gempa? Gawat! Aku tidak mau mati  di tempat seperti ini!
“Kita harus keluar dari sini!”
“Semua pegangan!”
Tapi begitu ayah hendak menstarter mobilnya,kami kembali dikejutkan oleh tembok penghalang yang tiba-tiba muncul di belakang kami.
Terjebak.
“Oh,tidak!”Ibu histeris,panik. “apa yang harus kita lakukan? apa yang harus kita lakukan?kita terjebak!”
“Ibu,tenang. . .,”
“Aaaaaarrrrggghhhhhhh. . . ,”
Seperti di ruangan yang hampa udara , kami terangkat ke atas. Cepat dan tidak bisa dihentikan. Tidak hanya sampai disitu saja. Begitu tiba di atas___tempat yang tampak sangat asing,terang dan suara mesin yang menderu__memekakakan telinga , kami kembali digiring ke tempat yang lagi-lagi tidak kami tahu. Barulah beberapa menit kemudian,kami tersadar bahwa ini adalah tempat untuk memarkir mobil.
Aku keluar dari mobil. Tampaklah olehku mobil-mobil yang berjejer begitu rapi dan bertingkat hingga ke puncak bangunan.Beberapa mesin raksasa bergerak dengan sangat hati-hati__menempatkan mobil-mobil yang lain ke tempat yang kosong.Keren! Aku terpukau melihatnya.
“Selamat datang di Hugo School,”seorang wanita paruh baya dengan postur tubuh yang tinggi , muncul di antara kami. Rambutnya yang masih hitam legam,disanggul ketat ke atas. Dia memakai jas dan rok di atas lutut dengan warna yang serba hitam. Rapi dan elegan. Dia juga memiliki ekspresi wajah yang sopan dan berbicara dalam aksen britania yang masih begitu kental. “Namaku Clara,aku akan mengantar kalian ke aula,”
“Ah,aku Frans dan ini istriku. . .,”kulihat wajah ibu tampak pucat.Sepertinya kejadian tadi masih berefek padanya. “Kau tidak apa-apa,sayang?
“Aku. . .aku. . .ingin. . .muntah,”lemasnya sambil memegang perutnya dan menyandarkan kepalanya di bahu ayah.
“Bisakah anda menunjukkan toiletnya dimana? Goncangan tadi sepertinya membuat istriku jadi mual,”
Aku tidak yakin apakah wanita itu tersenyum atau tidak.Tapi yang jelas raut wajahnya sedikit berubah.
“Sebelah sini,ikuti saya,”
Wanita itu berjalan paling depan. Ayah dan ibu menyusul dari belakang,lalu aku. Kasihan sekali ibu. Padahal kalau diingat-ingat sedari pagi ibulah yang paling bersemangat.Tapi setelah kejadian tadi,malah seperti orang yang hampir mati saja. Lagian aku sudah mengatakannya,kalau aku lebih baik bersekolah di sekolah biasa saja. Sekarang apa akibatnya? Dari awal aku memang tidak menyukai sekolah ini.Yah,walaupun tadi aku sempat kagum dengan sistem parkirannya yang keren.
“Hmmmpppffff. . .,”tiba-tiba sebuah tangan menutup mulutku dan memaksaku untuk mengikutinya. Aku berusaha memberontak. Menendang-nendang kakiku agar ibu dan ayah mendengarku. Tapi sia-sia. Tenaganya kuat sekali. Aku dibawa ke sebuah lorong yang cukup gelap. “Ppphhhlllpphhaaassin !”
“Tenang. . .,”
Tenang katanya? Enak saja. Aku kembali berontak. Kali ini aku menggigit tangannya dengan keras.
“Aaaooowww. . .!”rintihnya kesakitan,membuatku punya kesempatan untuk melepaskan diri. “Hei,kenapa kau menggigitku? ini aku !”
“Aku tidak mengenalmu. Dasar otak mesum!”
Buukk! Buukk! Buukk!
“He__hei ! hei !”kupukuli setiap inci tubuhnya dengan tas selempangku. Biar tahu rasa dia! Dia pikir,dia bisa macam-macam denganku? “Jangan pukul aku terus! Ini aku,Radit !”
“Ha? Radit ? Nama yang sangat bagus. Tapi jangan harap kau bisa lolos dariku!”
Buukk! Buukk!
“Azura,berhenti!”serunya terus menghindar dari pukulanku. Hei,dia memanggil namaku? “Ini aku,Radit. Pacarmu!”
“APA?!”
Sontak gerakanku langsung terhenti. Kupandangi dengan seksama sosok yang berada di hadapanku sekarang. Postur tubuhnya yang jangkung,dagu yang runcing,hidung yang mancung,mata yang coklat kehitaman,dan suaranya yang lembut. Astaga!! Dia benar-benar Radit!
“Radit?”
“Kau pikir siapa lagi kalau bukan aku?”sepertinya dia tampak kesal karena habis kupukuli.”Kau tahu? kau benar-benar menyakitiku,”
“Radit,aku benar-benar minta maaf,”sesalku.”Aku tidak tahu kalau itu kau.Tadi itu hanya refleks saja.Maafkan aku,”
“Ya,ya,ya,sudahlah,”ujar Radit melengos.”Lagipula ini juga salahku.Harusnya aku tidak membuatmu ketakutan seperti tadi,”
Kau benar.
“Tapi bagaimana kau bisa ada di sini?”tanyaku penasaran.Sumpah,rasanya senang sekali bisa bertemu dengan Radit kembali.
Bukannya dijawab,Radit malah tersenyum penuh arti.
“Kau ingin tahu?”
“Apa?”
Radit memegang kedua tanganku dan terdiam cukup lama. Lalu kemudian,”Selama tiga tahun kedepan ini,kita akan bersama-sama,”
“Apa?!”
“Kita akan bersama-sama,Azura. . .,”
Bersama-sama? Maksudnya aku dan Radit satu sekolah? Dia juga akan bersekolah disini? Itu berarti aku akan bertemu dengannya tiap hari? Bukan. Bukan tiap hari.Tapi tiap jam,tiap menit bahkan mungkin tiap detik. Ya ampun , ini bukan mimpi kan?
“Kenapa kau diam saja? kau tidak suka kalau aku sekolah disini juga?”
Aku menggeleng cepat. “Aku senang. Sangat senang,”
Radit tersenyum lebar.”Kau masih ingat tentang pembicaraan kita minggu lalu sewaktu di taman,kan ?”
“Iya,aku masih ingat,”dia menyuruhku untuk mengatakan pada ayah dan ibu kalau aku putus dengan Radit. Dia juga bilang kalau sekolah akan dimulai seminggu lagi dan akan menemuiku. Tunggu! Jangan-jangan . . .
“Radit,jangan bilang ini semua adalah bagian dari rencanamu?”
Radit tertawa.”Bisa dibilang seperti itu,”
“Kau gila,”benar-benar tidak bisa dipercaya.Radit merencanakan semua ini?Dia sepertinya tidak pernah kehabisan akal.”Tapi sebentar akan ada upacara penerimaan murid baru,bagaimana jika ibu dan ayah melihatmu?”
“Mereka tidak akan bisa mengenaliku. Disini ada ribuan anak baru,dan yang bernama Radit juga banyak. Ayah dan ibumu tidak bisa mengawasi mereka satu persatu kan?”
Radit benar.Mereka juga pasti akan sibuk berkenalan dengan para orang tua murid.Orang tua?
“Kau melupakan orang tuamu,Radit,”ucapku kembali resah.”Ayah dan ibu mungkin tidak bisa mengenalimu,tapi mereka pasti akan tahu kalau kau bersekolah disini juga melalui orang tuamu,”
Radit menghela nafas  sejenak. “Masalah itu. . .aku sudah menduganya,”kata Radit dengan entengnya.”Orang tuaku lagi keluar negeri.Mereka melimpahkan semua urusan sekolahku pada bibi Nani.Sementara Bibi Nani tidak bisa meninggalkan rumah karena harus mengurusi Daniel,keponakanku.Jadi,aku menyuruh temanku untuk berpura-pura sebagai orang tuaku,”
“Ya ampun,Radit?”bisa-bisanya dia punya pikiran seperti itu? Menyuruh temannya berpura-pura sebagai orang tuanya?”Tapi. . .,”
“Ssssttt,”Radit menyentuh bibirku dengan telunjuknya.”Kau tidak perlu mencemaskan yang lain. Yang penting sekarang adalah kita bisa bersama-sama lagi. Ayo,kita harus ke aula sekarang. Kalau ayah dan ibumu tidak melihatmu berada didekatnya,maka masalahnya akan jadi lain lagi,”
Aku tertawa. Dia benar. Yang penting sekarang aku bisa bertemu Radit dan akan bersama-sama dengannya selama tiga tahun kedepan. Ibu,ayah,maafkan aku. . .